The Noticer
by Andy Andrews
187 halaman
Rp 50.000 (bulan Juli 2010)

The Noticer adalah buku yang terakhir aku baca, yang merupakan rekomendasi dari Anita, temen ku yang sebelumnya udah baca buku ini.. Overall, buku ini cukup bagus, bercerita tentang bagaimana perspektif dalam hidup akan membuat kita menjadi lebih baik. Meskipun menurutku buku ini bisa dikategorikan sebagai buku self-motivation learning, namun buku ini ditulis dengan gaya cerita novel, sehingga tidak membosankan, dan tidak terkesan mengkuliahi pembaca nya.

Secara umum, buku ini berkisah tentang Jones, seorang tua yang seolah-olah selalu mengetahui permasalahan setiap orang, hadir di saat yang tepat, memberikan nasihat yang tepat, sehingga hidup orang yang bermasalah tadi seolah berubah menjadi jauh lebih baik sejak kehadiran Jones.. Buku ini terbagi menjadi 10 bab, yaitu:

1. Bab ini bercerita ttg masa lalu Andy (sang pengarang sendiri), di mana sebelumnya dia merupakan seorang yang miskin, dan hanya hidup untuk sekedar bertahan hidup saja. Suatu hari, Jones mendatanginya di pantai, dan mereka bercerita banyak tentang salah satu hal yang utama dalam kehidupan, yaitu tentang perspektif pikiran. Jones mengingatkan bahwa kesempatan akan datang bersamaan dengan orang lain dan dorongan. Maka jika kita ingin memperoleh banyak kesempatan dalam hidup ini, maka yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara menjadi orang yang akan didekati dan disukai oleh orang lain. Jika kita bertanya caranya, maka ada satu pertanyaan lagi yg harus dipikirkan, yaitu, “Jika ada hal yang bisa diubah oleh orang lain dari diri kita, apakah hal tersebut ?”. Hal ini cukup penting untuk diri kita sendiri sebagai suatu self-learning, mempelajari diri kita sendiri sehingga menjadi manusia yg lebih baik.

2. Bab ini bercerita tentang Jan dan Barry, sepasang suami istri yang sudah tidak nyaman dengan pernikahan mereka. Bukan karena mereka tidak saling mencintai lagi, namun mereka tidak mengerti ‘dialek cinta’ pasangan mereka masing-masing. Jones menjelaskan ada 2 tipe dialek cinta, yaitu ‘act of service’ atau perbuatan melayani pasangannya, dan ‘words of affirmation” atau perkataan. Act of Service merupakan dialek di mana seseorang akan melakukan suatu perbuatan sebagai bentuk kasih sayang (dalam hal ini, Jan dulu mencintai Barry karena Barry sangat senang melakukan hal-hal yang terlihat remeh, seperti mencuci pakaian, membantu Jan, dll. Namun akhirnya Barry berhenti melakukannya karena merasa hal itu tidak terlalu penting). Words of Affirmation merupakan dialek di mana seseorang mengungkapkan perasaan cintanya melalui ucapan (dalam hal ini, Barry selalu menyatakan cintanya pada Jan dan dulu Jan selalu membalas, namun belakangan Jan merasa bahwa semua orang juga dapat melakukannya, sehingga dia tidak perlu menyatakan cintanya lagi kepada Barry). Biasanya, orang dengan yang mencintai dengan dialek tertentu cenderung senang dicintai dengan cara yang sama.

3. Bab ini bercerita tentang lanjutan dialek cinta, yaitu ‘Physical Touch’ atau sentuhan fisik dan ‘Quality Time’ atau waktu bersama yg berkualitas. Physical Touch merupakan dialek di mana seseorang mengungkapkan perasaan cintanya melalui sentuhan kepada pasangannya (misalkan berpegangan tangan, berpelukan, dll) . Sementara Quality of Time merupakan dialek di mana seseorang mencintai pasangannya dengan keberadaannya dalam waktu yg berharga, entah apa yang dilakukan, apakah hanya sekedar menemani pasangan atau juga ikut terlibat bersama kegiatan pasangannya. Dalam bab ini, Jones juga menjelaskan ilustrasi dari 4 tipe dialek ini, di mana tipe Physical Touch diibaratkan sebagai kucing yang senang sekali jika disentuh/dibelai dsb. Tipe Quality of Time diibaratkan dengan burung kenari, di mana burung ini tidak terlalu banyak sentuhan, namun perlu merasa diperhatikan dengan didengarkan nyanyiannya. Tipe Word of Affirmation diibaratkan sebagai anjing, di mana anjing suka sekali terhadap pujian dari tuannya. Tipe Act of Service diibaratkan dengan ikan mas, di mana ikan mas tidak perlu tahu apakah kita memperhatikannya, apakah kita menyentuhnya, dia hanya ingin memastikan bahwa dia diberi makanan dan kolamnya dibersihkan.

4. Bab ini bercerita tentang Walker, yang hidupnya diliputi berbagai kecemasan. Hal ini karena pikiran imajinatifnya sendiri, di mana semua kemungkinan terburuk pun juga ikut dipikirkannya, sehingga malah menjadi bumerang dan membuat dirinya sendiri khawatir. Oleh karena itu, Jones menyuruhnya untuk mengalahkan pemikiran-pemikiran negatif itu dengan logika, di mana menurut Jones hanya 8% dari pikiran kita yang benar tentang suatu kekhawatiran, selebihnya bukanlah merupakan kekhawatiran yang sesungguhnya. Jones juga menganjurkan untuk menuliskan 10 hal yang dapat kita syukuri tiap harinya, sehingga hari kita akan menjadi lebih baik dengan adanya rasa syukur itu.

5. Bab ini bercerita tentang segerombolan remaja yang sedang magang di padang Golf, dan bertanya kepada Jones tentang perkawinan. Jones mengatakan bahwa dalam perkawinan, sangat sering terjadi kompromi yang malah membuat pernikahan tidak bahagia bagi yg menjalaninya. Ilustrasinya adalah berikut. Ada seorang pria yang mencintai perempuan. Pria tersebut suka sekali sepakbola, namun alergi terhadap kuda. Sebaliknya perempuan itu senang sekali terhadap kuda, namun tidak suka sepak bola. Namun, masing-masing dari mereka berpikir bahwa pasangannya adalah yang paling penting, dan mereka rela berkompromi terhadap hal yang sebelumnya mereka sukai. Hal-hal seperti demikian inilah yg dapat merusak pernikahan, karena kedua belah pihak tidak hidup dengan apa yang mereka cintai. Selain masalah pernikahan, Jones juga menyebutkan bahwa teman yang kritis harus disyukuri, karena sering kali kita tidak dapat melihat perspektif yang luas jika dihadapkan pada suatu permasalahan. Oleh karena itu, kita butuh teman yg dapat mengingatkan kita dengan perspektif yang lebih luas.

6. Bab ini bercerita tentang Willow, seorang perempuan tua yang hidup sendirian karena suaminya meninggal dan anak-anaknya sudah hidup sendiri bersama keluarga mereka masing-masing. Willow merasa hidupnya sudah tidak berarti, karena dia merasa tidak ada lagi yang dilakukannya. Bahkan dia merasa sedikit bersalah, karena dirinya sudah hidup setua itu, sedangkan anak terakhirnya yang paling dicintainya sudah meninggal. Dia berpikir bahwa tugas-tugas dalam kehidupannya sudah selesai dan sudah seharusnya digantikan oleh orang yang lebih muda. Jones datang kepadanya dan mengatakan bahwa ” Selama kamu masih bernapas, maka kamu belum mati, dan tugas mu di dunia ini belum selesai”. Willow lalu mengatakan bahwa dia akan mencoba melakukan beberapa hal kecil untuk mengisi harinya. Namun Jones kembali mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada hal kecil di dunia ini. Dia mencontohkan, Bourlag merupakan orang penemu hibrida gandum yang menyelamatkan 2 miliar orang dari kelaparan. Namun, menurut Jones, Harry Wallace (mantan menteri pertanian dan wakil Presiden Amerika Serikat) merupakan orang yg berjasa karena beliaulah yang memerintahkan pencarian hibrida tersebut dan mempekerjakan seorang pemuda bernama Bourlag. Jauh sebelumnya, tidak ada yg tahu bahwa dulu, George Washington Carver (yang merupakan ahli tanaman) pernah mengajak anak berumur 6 tahun untuk meneliti tanaman, dan anak itu bernama Harry Wallace. Hal ini menunjukkan bahwa seringkali tanpa sadar, hal-hal besar selalu diawali dengan hal terkecil dan kelihatannya tidak penting.

7. Bagian ini bercerita tentang Henry, seorang pengusaha yang mendambakan kesuksesan, namun tidak mengerti bahwa masih ada kehidupan yang sukses yang lebih penting. Pada mulanya, dia merupakan seorang yang selalu mengutamakan kepentingannya. Dia adalah kontraktor real estat. Seringkali dia berbuat beberapa kecurangan kecil dalam pekerjaannya yang mengakibatkan customer komplain, bahkan hingga sampai bosan dan akhirnya meninggalkannya (tentu dengan pembayaran yang sudah lunas, hal ini yang paling penting bagi Henry). Selain itu, dia juga bertindak sewenang-wenang terhadap karyawannya, karena dia merasa memiliki posisi yang lebih baik, di mana karyawannya merupakan buruh ilegal sehingga mereka tidak akan melapor ke serikat buruh jika ada masalah. Henry juga mengabaikan istrinya yang sedang hamil. Hal-hal ini menyebabkan image Henry cukup jelek di mata orang-orang dekatnya. Maka Jones menganjurkan kepada Henry agar melakukan perubahan terhadap hal yang dikiranya remeh tersebut, karena hal remeh itulah yang akan mempengaruhi gambaran yang lebih besar. Perubahan itu dapat dimulai dari kapan saja, termasuk sekarang. Namun, yang menjadi perhatian Jones adalah, niat saja tidak cukup. Suatu perubahan tidak cukup hanya dengan niat saja, namun harus disertai dengan tindakan.

8. Bab ini menjelaskan tentang pilihan dan kesalahan, serta perbedaannya. Hal ini diilhami oleh Henry yang sudah merasa berubah dan meminta maaf atas kesalahannya dulu, namun merasa tidak ada perubahan positif di antara sekitarnya. Lalu Jones menjelaskan bahwa ada dua hal, yaitu kesalahan dan pilihan. Kesalahan adalah hal yang tidak tepat terjadi lebih karena keadaan, misalkan anda tersesat karena tidak tahu jalan dan langit sudah gelap sehingga tidak kelihatan. Namun, pilihan adalah hal yang tidak tepat terjadi karena anda dengan sadar memilih suatu tindakan dan menerima konsekuensinya. Jones mengingatkan bahwa apa yang dilakukan Henry lebih banyak merupakan pilihan yang sadar, bukan sekedar kesalahan yang tidak disengaja. Maka, maaf saja tidak cukup untuk mengubah berbagai pilihan yang salah. Untuk menangani pilihan yang salah, Jones menganjurkan penyesalan yg mendalam dan mencari ampunan. Selain itu, Jones juga berharap bahwa Henry dapat menjadi teladan yang baik bagi anaknya kelak, karena seringkali anak mendapat pengaruh yang cukup besar dari orang tuanya.

9. Pada bab ini, Jones mengajak Andy untuk berjalan di pantai, dan menemui seorang anak di pantai. Kisah dalam bab ini sungguh mirip dengan kisah bab 1, di mana Jones pertama kali bertemu dengan Andy.

10. Bab ini merupakan penutup, di mana Jones meninggalkan kopernya untuk semua orang yang sudah pernah dia ubah hidupnya. dalam bab ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Hal utama adalah perspektif, di mana perspektif sangat penting dalam kehidupan kita. Terkadang, dalam menghadapi suatu permasalahan, seringkali kita merasa tidak menemui jawabannya, namun hal ini sesungguhnya karena kita kurang mengerti tentang perspektif. Perspektif dapat menuntun kita menuju pemikiran yang jernih, sehingga dapat membantu kita menyelesaikan suatu masalah.

Overall, buku ini cukup membantu kita dalam memahami perspektif dalam kehidupan, dan di bagian belakang, disertai dengan berbagai refleksi pribadi yang dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan bab yang ada di dalam buku ini. Saya sendiri belum melakukan berbagai refleksi tersebut, namun ada rencana untuk membahas masing-masing dari refleksi tersebut di dalam blog ini..

Recommended Book!..