Memasuki tahun 2011, ada fenomena yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Fenomena tersebut adalah semakin banyaknya penggunaan mobile phone dan layanan datanya dalam berbagai bidang kehidupan. Jika dulu handphone hanyalah alat komunikasi semata (baik telepon maupun SMS), maka saat ini, mobile phone sudah mulai merambah ke banyak bidang. Contohnya, social media (akses mobile facebook dan twitter sudah lazim ditemui. Penggunaan mobile phone untuk bersosialisasi dianggap lebih praktis dibandingkan dengan menggunakan komputer), industri kreatif (semakin ramainya penjualan RBT, yang dapat menyumbangkan pendapatan yang tidak sedikit bagi operator telekomunikasi, serta beragam content lain yang biasanya dijual dengan harga premium SMS), bahkan lifestyle (contohnya, pesatnya penggunaan handset Blackberry di Indonesia).

Fenomena-fenomena tersebut secara tidak langsung turut andil dalam memacu akselerasi perkembangan telekomunikasi seluler di Indonesia. Para operator semakin bersemangat dan gencar mencari pelanggan baru. Promosi-promosi tidak hanya dilakukan sebatas dengan promo dan perang harga saja. Harus ada faktor pembeda yang membuat operator-operator tersebut memiliki ciri khas yang dapat menempel dan memperoleh tempat khusus di benak pelanggannya. Salah satu yang dapat dilirik oleh operator adalah menyediakan content yang kreatif bagi para pelanggannya sebagai salah satu faktor pembeda. Hal ini secara tidak langsung juga dapat menjadi peluang baik bagi insan dunia industri kreatif untuk mencicipi porsi pemasukan industri telekomunikasi yang setiap tahun selalu meningkat tersebut.

Perkembangan Telekomunikasi Seluler di Indonesia

Jika ingin sekilas melihat perkembangan telekomunikasi seluler di Indonesia, tentu saja dapat kita lihat pesatnya kemajuan di bidang ini dari berbagai sisi. Contoh paling mudah saja, jika sekitar 10 tahun lalu industri ini hanya ditempati oleh 3-5 pemain besar, maka saat ini, jumlah operator yang turut bersaing memperebutkan kue pelanggan sudah dapat dihitung melebihi jumlah jari tangan kita. Bagaikan peribahasa “Ada Gula Ada Semut”, tentulah banyaknya jumlah operator ini secara tidak langsung menunjukkan legitnya penghasilan yang diterima oleh operator telekomunikasi. Contoh lain, mulai berubahnya peran handphone, dari yang mulanya adalah barang mewah, kini dapat dikategorikan sebagai barang sekunder, bahkan barang primer sekalipun. Membawa handphone sama pentingnya dengan membawa dompet. Bagi generasi muda, mengupdate status dan membaca twitter sama pentingnya dengan membaca koran setiap hari.

Jika kita bermain-main sejenak dengan angka, tentu lebih memukau lagi. Jumlah pelanggan seluruh operator telekomunikasi di Indonesia sekitar 180 juta orang, walaupun kita tidak tahu apakah jumlah tersebut mewakili setiap pelanggan, ataupun 1 pelanggan dapat memiliki lebih dari 1 nomor handphone. Yang jelas, jumlah tersebut hampir mencakup 80% jumlah penduduk Indonesia. Jumlah yang dapat dikatakan tidak sedikit. Saat ini, industri telekomunikasi sama pentingnya dengan industri makanan&minuman ataupun pakaian. Orang tidak bisa (atau sangat sulit) hidup tanpa akses komunikasi.

XL (PT XL Axiata) sendiri merupakan salah satu pemain besar di bidang telekomunikasi di Indonesia. Sampai dengan semester pertama 2010, pelanggannya diperkirakan mencapai 35.2 juta pelanggan. Jumlah yang cukup fantastis, hampir mencapai 18% dari jumlah total penduduk Indonesia. Katakan saja tiap bulan 1 pelanggan mengisi pulsa Rp 10.000. Bisa dibayangkan berapa penghasilan sebulan yang diterima, 35.200.000 x Rp 10.000 = Rp 352.000.000.000. TIGA RATUS LIMA PULUH MILYAR RUPIAH per bulan. Sama sekali bukan jumlah yang sedikit kan ?

Dengan gurihnya industri telekomunikasi, tidaklah heran bermunculan banyak pemain baru di bidang ini. Tentu saja, perang antar operator yang terjadi adalah saling memberikan promo dan diskon dalam hal tarif, dalam berbagai bentuk penawaran. Namun, jika harga yang ditawarkan tidak berbeda jauh, bagaimanakah cara memenangkan hati pelanggan dan calon pelanggan ? Menurut saya, jawabannya ada di layanan pendukung yang dimiliki operator. Dalam hal ini, khususnya yang akan dibahas adalah peran industri kreatif yang sudah mulai ramai ditawarkan oleh operator telekomunikasi. Contoh paling mudah saja adalah fenomena RBT (Ring Back Tone) yang kini menyumbangkan pendapatan yang tidak sedikit bagi operator.

Industri Kreatif Digital di Indonesia

Industri kreatif (khususnya di bidang digital) di Indonesia seolah tidak mau ketinggalan dalam memanfaatkan mobile phone sebagai media berekspresi. Saat ini, semakin banyak industri kreatif yang bermunculan, baik yang sudah ada maupun yang baru muncul seiring dengan perkembangan zaman digital ini. Seperti yang disebutkan di atas, contoh paling mudah adalah Ring Back Tone, yang sebelumnya merupakan wilayah bisnis dari industri musik. Sebelum era digital meraja-lela, industri musik konvensional berbisnis dengan cara berjualan kaset, CD, aksesoris, maupun mengadakan konser/show. Namun, tidak dapat dipungkiri juga bahwa memasuki era digital, pembajakan pun semakin tidak terbendung. Lagu-lagu bajakan dalam format mp3 semakin bertebaran, didukung pula dengan semakin meluasnya akses informasi via internet. Lantas, muncullah fenomena baru, yakni industri musik yang dipadukan dengan industri telekomunikasi yang hasilnya ternyata berdampak sangat positif, baik bagi operator telekomunikasi maupun bagi insan pemusik sendiri. Kita mengenalnya dengan istilah Ring Back Tone (RBT), yaitu potongan lagu yang dapat didengarkan oleh seseorang ketika menunggu telepon diangkat. Sekilas, hal ini terlihat sederhana dan tidak ‘wah’ layaknya teknologi baru. Namun, harus diakui, bahwa fanatisme dan kecintaan masyarakat Indonesia akan lagu-lagu dari penyanyi idolanya cukup besar. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk berlangganan RBT. Inilah yang membuat RBT menjadi semakin laris.

Mari kita berhitung sejenak lagi untuk mengetahui besarnya pendapatan kasar yang dapat diperoleh dari RBT ini. Katakanlah biaya berlangganan selama sebulan adalah Rp 5.000, angka yang terlihat sangat kecil. Bahkan mungkin jumlah ini sudah lebih kecil dari jumlah yang harus kita keluarkan untuk makan siang 1x di kota besar. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa industri telekomunikasi merupakan industri dengan faktor pengali yang sangat besar, yaitu jumlah pelanggannya. Untuk setiap 1 juta pelanggan yang dimiliki oleh operator, maka penghasilan kotornya adalah Rp 5 miliar rupiah. Jumlah yang besar juga kan ?

Tidak hanya berhenti pada RBT, pada masa mendatang, dipercaya bahwa layanan Full Track Download (mendownload satu lagu utuh, bukan hanya menjadi RBT saja) juga akan mulai meningkat. RBT yang hadir sejak tahun 2002 memang sempat memuncak popularitasnya, namun, masih memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan utamanya, tentu saja, lagu yang disediakan hanyalah cuplikan singkat, danyang paling penting, RBT didengarkan oleh penelpon, bukan orang yang berlangganan RBT itu sendiri. Faktor-faktor inilah yang dinilai menyebabkan mulai turunnya jumlah pengguna layanan RBT. Di sisi lain, faktor tersebut juga dapat mendorong layanan Full Track Download yang sudah mulai lazim ditemukan di luar negeri. Menurut saya, keunggulan dari FTD adalah dapat ditekannya biaya yang selama ini mencakup pembuatan fisik lagu, seperti CD, cover dll, sehingga harganya menjadi sangat terjangkau oleh masyarakat luas. Dengan harga yang murah, diharapkan pembajakan musik di Indonesia dapat ditekan lebih baik lagi.

Jika diamati dengan lebih lanjut, tentu saja isi dari industri kreatif ini tidak melulu hanya dari bidang musik saja. Masih banyak pemain industri kreatif lainnya yang dapat kita simak, seperti pembuatan aplikasi maupun games-games yang dimainkan di handphone. Pasar untuk industri aplikasi ini masih terbuka lebar bagi developer, baik lokal maupun internasional. Selain itu, bidang yang dapat dimasuki oleh operator adalah penyediaan buku digital, yang dapat menarik minat komunitas pembaca yang tentu jumlahnya juga tidak sedikit.

Peran XL dalam Memacu Perkembangan Industri Kreatif Digital

XL Axiata sebagai salah satu operator telekomunikasi terbesar di Indonesia juga turut serta dalam memacu perkembangan industri kreatif di era digital seperti sekarang ini. Selain menyediakan RBT yang juga disediakan oleh operator lainnya, XL juga memiliki layanan kreatif lainnya. Contohnya adalah fitur streaming musik, di mana pelanggan XL Internet Unlimited dapat mendengarkan lagu dari 12 label terkenal di Indonesia secara gratis, selama 6 bulan penuh. Penyediaan fasilitas gratis untuk memperdengarkan lagu secara streaming ini merupakan hasil kerjasama antara XL dengan PT. Sibernetika Indonesia (Streamsation), serta didukung oleh 12 perusahaan music (label) diantaranya Sony Music Entertainment, Indo Semar Sakti, E-motion Entertainment , Musica studio’s, Pelangi Record, Sani Music Entertainment, Trinity optima production, Universal Music Indonesia, Virgo Ramayana Record, Warner Music Indonesia, EMI , dan Aquarius Musikindo.

Selain contoh di atas, layanan terbaru dari XL adalah produk XL Cuaps yang diluncurkan XL bulan Desember 2010 ini. XL Cuaps adalah sebuah layanan yang menyediakan fitur blog suara dan juga merupakan layanan Selebriti Voice Blog pertama di Indonesia. Dengan fasilitas blog suara ini, pelanggan dapat menjadi ‘blogger’ yang senantiasa membuat artikel ataupun menyampaikan opini dan informasi. Bedanya, jika blogger biasa menuangkan tulisan pada media blog konvensional dengan website, maka pada blog voice, pelanggan merekam suara mereka (seperti podcast atau audio-book) untuk selanjutnya diunggah dan didengarkan oleh pelanggan XL yang lain.

Layanan ini tentu adalah inovasi baru yang diberikan XL sebagai nilai tambah bagi pelanggannya. Selain dapat membuat content sendiri, XL juga bekerja sama dengan beberapa artis untuk mengisi content XL Cuaps (disebut sebagai blog voice premium). Dengan demikian, para pelanggan dapat berlangganan untuk mendengarkan blog voice dari artis idolanya. Tidak jarang, terkadang para artis juga berbagi tips dalam blog voice mereka. Hal tersebut sudah dilakukan oleh Dewi Lestari dalam blog voicenya. Hal ini dapat dipandang sebagai upaya artis untuk mendekatkan diri dengan penggemar mereka. Sebaliknnya, penggemar pun dapat mendengarkan suara artis idola mereka tanpa repot-repot bertemu langsung. Blog voice menjadi sarana antara penggemar dan idola tersebut. Untuk menikmati layanan ini pun, tidak diperlukan handphone dengan spesifikasi yang canggih. Hampir semua tipe handphone dapat digunakan karena layanan ini hanya berbasiskan suara saja.

Saran Industri Kreatif Digital yang Dapat Dilirik di Masa Mendatang

Selain RBT dan XL Cuaps, sebenarnya masih banyak industri kreatif digital yang dapat dilirik XL untuk memberikan content yang memberikan nilai tambah bagi para pelanggannya. Berikut adalah beberapa yang menurut saya cukup menarik untuk diterapkan.

  • Industri komik digital: komik merupakan salah satu industri kreatif yang cukup berpotensi di Indonesia karena jumlah penggemar komik cukup besar. XL dapat membuat layanan untuk mendownload ataupun membaca komik secara berkala (dengan sistem berlangganan) bagi para pelanggannya. Tidak hanya komik luar negeri, komik lokal pun pantas untuk diperhitungkan. Jika kita berbicara dari sisi teknis, komik lokal sebenarnya tidak kalah bagus dari komik luar negeri. Hanya saja, publikasi untuk komik lokal seringkali kurang memadai, sehingga tidak banyak yang tahu bahwa komikus Indonesia juga mampu melahirkan karya yang baik. Diharapkan, dengan upaya membawa komik (terutama produk lokal) secara digital, kebutuhan para pembaca komik dan komikus sendiri juga akan terpenuhi dengan baik.
  • Industri buku elektronik digital: selain komik, e-book atau buku elektronik juga merupakan industri kreatif yang berpotensi tumbuh. Dengan adanya fasilitas market untuk e-book berbayar, e-book di Indonesia dapat berkembang lebih luas lagi. Keunggulan e-book adalah dapat ditekannya biaya produksi yang biasa menyertai pembuatan buku konvensional. Selain itu, dengan e-book, maka setiap orang lebih punya peluang untuk menerbitkan bukunya masing-masing karena tidak harus membentur tembok tebal yang terkadang dialami ketika menyerahkan naskah ke penerbit. Dengan dukungan market yang dimiliki oleh operator telekomunikasi, distribusi e-book dapat lebih terjamin.
  • Aplikasi dan games: seiring dengan semakin menjamurnya smart phone dengan kemampuan menengah ke atas, kebutuhan akan aplikasi dan games juga semakin besar. Jika kebutuhan ini dapat diakomodasi dengan baik oleh operator, maka operator juga dapat membantu industri software lokal secara tidak langsung dan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan akan hiburan di mobile phone mereka. Aplikasi yang mungkin akan disukai terutama adalah aplikasi yang memanfaatkan unsur social media maupun networking. Hal ini dapat dilihat dari fenomena besarnya pengguna facebook dan twitter setahun terakhir ini.

Insan industri kreatif lokal yang dimiliki oleh negara Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan pemain dari luar negeri. Hal ini terbukti dengan beberapa perusahaan yang justru menerima orderan content kreatif (seperti games, aplikasi,dll) dari luar negeri. Ironisnya, produk mereka sangat sulit untuk menembus pasar domestik sendiri, yang terkadang terburu-buru memberikan stigma bahwa produk lokal itu kurang baik. Dengan dukungan operator sebesar XL, diharapkan dapat membantu dan memfasilitasi pemain-pemain lokal di industri kreatif, khususnya digital, untuk menembus pasar lokal yang sebenarnya masih sangat terbuka peluangnya.


Post ini dibuat untuk mengikuti lomba blog XL Award 2010
Kategori Umum
Tema : Pengaruh perkembangan telekomunikasi seluler dan perkembangan industri kreatif di Indonesia

Sumber bacaan

http://ekonomikreatif.blogspot.com/2008/04/berbagai-sudut-pandang-tentang-ekonomi.html
http://www.detikinet.com/read/2010/05/31/114349/1366472/328/tren-rbt-akan-beralih-ke-musik-full-track
http://xl.co.id/TentangXL/RuangMedia/articleType/ArticleView/articleId/56385/XL-Luncurkan-Layanan-XL-Cuaps
http://xl.co.id/TentangXL/RuangMedia/articleType/ArticleView/articleId/56281/Nikmati-lagu-dari-12-label-melalui-internet
http://id.wikipedia.org/wiki/Telekomunikasi_seluler_di_Indonesia