Pakar ekonomi mengatakan bahwa sebenarnya kebutuhan manusia dapat disebut tanpa batas. Kita jarang sekali merasa puas, selalu ingin yang lebih baik lagi. Terlebih jika kita tahu bahwa kemungkinan menjadi lebih baik itu ada, atau besar peluangnya. Hal ini juga kita rasakan dalam kehidupan berinternet, terutama jika membicarakan kecepatan koneksi internet. Beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 1990-an, kita mulai mengenal Internet dan melakukan koneksi dengan sambungan telepon rumah biasa, dengan bantuan modem berkecepatan maksimal 56 kbps. Saat itu, kita sudah mampu melakukan berbagai hal, browsing artikel dari web directory, mengirim electronic mail, chatting dengan teman yang berada nun jauh di negara lain, dll. Kita sudah puas dengan kecepatan itu, saat itu. Sama dengan sifat dasar manusia, ternyata kita pun selalu merasa kurang cepat, terutama karena content yang bertebaran di Internet pun mulai variatif dan membutuhkan bandwidth yang besar. Jika dulu content didominasi oleh text, sekarang adalah eranya video, audio, dan gambar yang memukau. Tentu saja, koneksi yang dibutuhkan haruslah lebih cepat lagi. Saat ini, koneksi ratusan kbps sudah lazim, bahkan mencapai satuan mbps. 10 hingga 100 x lebih cepat dari modem dulu!

Jika kita melihat zaman sekarang, yang lebih memukau adalah mulai bergesernya penggunaan PC sebagai sarana ber-Internet, menjadi ke arah mobile dengan memanfaatkan handphone/smartphone sebagai sarana berselancar ria di rimba Internet. Tak pelak, kebutuhan koneksi yang dulunya hanya digunakan untuk telepon dan SMS mulai bergeser menjadi paket data untuk mengunduh berbagai hal dari Internet. Maka, beberapa tahun terakhir, kita mengenal banyak istilah baru yang berkaitan dengan koneksi broadband via mobile device. Yang saat ini masih banyak digunakan adalah teknologi 3G (W-CDMA dan UMTS) dan GPRS. Meskipun penetrasi teknologi 3G masih belum terlalu ramai , perkembangan teknologi ternyata telah selangkah lebih maju lagi, dengan menghadirkan teknologi 4G yang siap diluncurkan. Tentu saja, dengan menjanjikan kecepatan yang jauh lebih baik dari teknologi sebelumnya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita berkenalan dengan teknologi 4G ini terlebih dahulu.

Mengenal Sekilas Teknologi XG

4G atau dapat dibaca dengan fourth generation adalah teknologi terbaru dalam dunia komunikasi nirkabel (wireless communication) setelah teknologi-teknologi xG-xG lain yang mendahuluinya, yaitu 1G, 2G dan 3G. 1G merupakan teknologi paling dasar yang menggunakan sistem analog dan menjadikan suara sebagai objek utamanya. Teknologi ini dilanjutkan dengan tahap berikutnya, 2G, yang implementasinya lebih dikenal dengan GSM dan CDMA2000 X1. Teknologi 2G sudah cukup memadai untuk melakukan telepon,mengirim pesan pendek (SMS), dan transfer data, walaupun dengan kecepatan rendah sampai menengah. Seiring dengan perkembangan zaman, maka berikutnya lahirlah teknologi 3G yang turut mempercepat akselerasi akses informasi yang kian mobile saat ini. Kecepatan teknologi 3G cukup memadai untuk melakukan transfer data dengan kecepatan tinggi, bahkan untuk keperluan multimedia sekalipun. 3G lebih dikenal dengan nama W-CDMA dan UMTS. Teknologi terakhir yang sedang dikembangkan adalah teknologi 4G itu sendiri.

Selain 2G, 3G, dan 4G, masih ada beberapa teknologi yang merupakan tahap ‘pertengahan’ dari teknologi tersebut. Contohnya, teknologi 2.5G berupa GPRS (General Packet Radio Service)  dan EDGE (Enhance Data rate for GSM Evolution). Selain itu, masih ada teknologi HSDPA (High Speed Downlink Packet Access) dan CDMA EV-DO yang merupakan implementasi dari teknolgi 3.5G.

Teknologi 4G

Beberapa rekomendasi spesifikasi standard teknologi 4G yang sudah ditentukan oleh ITU Radiocommunication Sector (ITU-R) sebagai badan international yang menangani komunikasi radio adalah sebagai berikut:

  • Menggunakan basis IP Address dengan sistem packet-switched network, tanpa adanya circuit-switched network yang digunakan pada 3G.
  • Kecepatan transfer data yang mencapai angka 100 Mbps untuk akses jaringan mobile, dan kecepatan 1 Gbps untuk kecepatan akses lokal.
  • Bandwidth dengan channel antara 5 – 20 MHz, dan maksimal hingga 40 MHz.

Tidak tanggung-tanggung, IP yang akan disediakan oleh handset yang mendukung teknologi 4G ini adalah IPv6, yang merupakan Internet Protocol (IP) jenis terbaru yang diciptakan untuk mengantisipasi semakin berkurangnya IP address standard selama ini (IPv4) karena semakin banyaknya kebutuhan akan IP Address. Tentu saja, hal ini menandakan bahwa teknologi 4G sudah berorientasi jauh ke depan, mengingat bahwa penggunaan IPv6 untuk PC sekalipun masih belum terlalu lazim, terutama di Indonesia. Selain itu, handset juga akan dilengkapi dengan fasilitas Internet telephony yang berbasiskan Session Initiation Protocol (SIP)

Teknologi standard 4G sendiri akan hadir dalam beberapa sistem implementasi, yaitu:

LTE (Long Term Evolution) Advanced – distandardkan oleh 3GPP, 3rd Generation Partnership Project

Standard yang diajukan oleh 3GPP ini sebenarnya sudah memiliki predesesor/pendahulu bernama LTE biasa, yang sayangnya masih belum sesuai dengan spesifikasi standard 4G. LTE pertama kali diterapkan di dua kota di Skandinavia, yaitu Stockholm (oleh Ericsson) dan Oslo (dengan sistem dari Huawei). Kecepatan yang ditawarkan mencapai 100Mbps untuk kecepatan download dan 50Mbps untuk kecepatan upload.

Teknologi ini lalu dikembangkan lagi dengan nama LTE Advanced oleh 3GPP, dan diharapkan siap pakai pada tahun 2012. Sistem pengembangan LTE menjadi LTE Advanced juga lebih menguntungkan bagi vendor, karena cukup melakukan upgrade dari hardware LTE yang lama menjadi LTE Advanced, seperti dalam kasus W-CDMA yang diupgrade menjadi HSDPA. Spektrum tambahan dan multiplexing yang digunakan akan membuat kecepatan transfer yang tinggi dapat dicapai. Hingga saat ini, LTE Advanced sudah mencapai release 8, dengan kecepatan download mencapai 300 Mbps.

802.16x (WiMAX) – distandardkan oleh IEEE, Institute of Electrical and Electronics Engineers

Mobile WiMAX 802.16e pertama kali diperkenalkan pada tahun 2006, oleh operator Korea KT di Seoul. Teknologi ini menawarkan kecepatan download hingga 128Mbps dan kecepatan upload hingga 56Mbps. Walaupun kecepatan tersebut masih di bawah spesifikasi standard 4G, namun WiMax juga sudah disebut sebagai implementasi teknologi 4G.

Penelitian lebih lanjut telah dilakukan oleh IEEE dengan mengembangkan Mobile WiMax (802.16e) menjadi WirelessMAN-Advanced (802.16m) yang tentunya diharapkan dapat mencapai kecepatan standard 4G, yaitu 1Gbps.

Hingga saat ini, kedua teknologi di atas masih belum mampu mencapai rekomendasi standard dari ITU. Oleh karenanya, LTE dan WiMAX masih dianggap sebagai teknologi pre-4G. Di Indonesia sendiri, teknologi WiMAX telah masuk sejak tahun 2010 dan dikembangkan oleh operator Sitra WiMAX. Untuk teknologi LTE, Ujicoba pertama sudah diawali oleh XL (PT. XL Axiata)

XL dan Teknologi 4G

XL Axiata sebagai salah satu operator telekomunikasi terbesar di Indonesia juga turut serta dalam perkembangan teknologi 4G di tanah air, dengan menggandeng teknologi LTE. Pada tanggal 20 Desember 2010 yang lalu, bekerja sama dengan PT Ericsson Indonesia, XL sukses menggelar ujicoba penggunaan LTE untuk pertama kalinya. Teknologi 4G diujicobakan dengan melakukan live report pertama kali untuk stasiun TV SCTV serta live streaming pertunjukan musik Pandji Pragiwaksono. Selain itu, XL juga memberikan kesempatan bagi para jurnalis dan blogger untuk mencoba kecepatan LTE ini yang dapat mengakomodasi kebutuhan akan koneksi Internet yang cepat. Dikatakan, dalam ujicoba tersebut, XL berhasil mencapai kecepatan download 100 Mbps, di mana hanya dibutuhkan waktu 66 detik untuk mendownload file multimedia berukuran 350MB.

Hasil dari ujicoba terbatas ini menunjukkan, paling tidak ada beberapa bidang yang mendapat manfaat dari teknologi 4G ini, di antaranya:

  • Mendukung aktivitas broadcasting, seperti siaran langsung/live report. Hal ini dibuktikan dengan melakukan kerja sama dengan liputan 6 untuk mengadakan live report pertama di Indonesia. Dengan dukungan portabilitas dan kecepatan tinggi yang ditawarkan oleh LTE, pengiriman gambar dan suara dapat dengan mudah dilakukan.
  • Pertunjukan music live streaming yang dilakukan oleh XL dengan menampilkan show Pandji Pragiwaksono. Ini tentu menjadi berita gembira bagi para insan kreatif di Indonesia, bahwa acara show sekarang dapat dilakukan via live streaming, terutama untuk mengakomodasi penggemar yang tidak dapat menyaksikan acara live on-site.

Implementasi Teknologi Sebelum 4G di Indonesia

Hingga saat ini, harus diakui bahwa teknologi paling populer yang banyak digunakan di Indonesia adalah teknologi 2G atau GPRS dan CDMA 1x. Hal ini lebih disebabkan karena kebutuhan pengguna yang lebih banyak pada telepon dan pesan pendek SMS. Selain itu, harga handset GPRS dan CDMA sudah sedemikian murahnya, sehingga dapat dikatakan bahwa handphone saat ini bukanlah menjadi sebuah barang mewah, namun menjadi barang kebutuhan sekunder, bahkan primer. Diperkirakan, hingga Juni 2010, pengguna telepon genggam di Indonesia sudah mencapai 180 juta pelanggan. Tentunya jumlah yang sangat fantastis, hampir mencakup 80% jumlah total penduduk Indonesia.

Penetrasi teknologi 3G sendiri, walaupun penggunanya belumlah sebesar teknologi 2G, masih cukup menjanjikan. Semakin banyaknya akses data via mobile menjadi faktor pemicu jaringan dengan teknologi high-speed semacam W-CDMA, CDMA-EVDO, maupun HSDPA. Tidak hanya digunakan untuk mobile phone saja, teknologi ini sudah merambah masuk ke mobile broadband menggunakan USB modem yang dapat digunakan dengan komputer ataupun laptop. Faktor pemicu lainnya dari bakal semakin tingginya kebutuhan koneksi cepat ini adalah faktor social media yang berkembang sangat pesat, terutama di tahun 2010, di mana jumlah pengguna Facebook dan Twitter (dua social media paling populer di dunia saat ini) yang berasal dari Indonesia sudah mencapai posisi dua di dunia, setelah Amerika Serikat. Faktor-faktor ini diperkirakan dapat menambah pelanggan operator telekomunikasi, khususnya dalam hal mobile broadband Internet.

XL sendiri, hingga kini, sudah memiliki kapasitas layanan data yang cukup memadai, didukung dengan adanya alokasi frekuensi 3G sebanyak 2 x 10 Mhz 3G carrier (1960-1970 MHz / 2150-2160 MHz). (dari ruang media XL, 30 September 2010). Pada bulan September itu, XL memperoleh tambahan frekuensi 2 x 5 MHz yang melengkapi alokasi yang sudah dimiliki sejak tahun 2006 sebanyak 2 x 5 MHz. Penambahan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan data XL terhadap pelanggan. Selain itu, peningkatan ini juga dilakukan sebagai persiapan XL dalam menyediakan layanan 4G di masa mendatang.

Jumlah pelanggan XL sendiri sampai dengansemester pertama tahun 2010 sudah mencapai  35.2 juta pelanggan, di mana sekitar 17 juta pelanggannya (hampir mencapai 50%) sudah aktif menggunakan layanan data. Hal ini menandakan prospek yang baik bagi calon pengguna 4G yang menyediakan koneksi cepat untuk transfer data. Layanan XL yang membentang dari Sabang sampai Merauke diharapkan dapat semakin berkembang baik, terutama jika teknologi 4G sudah siap diimplementasikan.

Kesimpulan

Menarik untuk ditunggu kelanjutan dari implementasi teknologi 4G ini di Indonesia. Jika penerapan 4G sudah benar-benar matang, maka batas-batas geografis nusantara akan semakin terkaburkan. Impian untuk menyediakan Internet cepat dan murah bagi semua warga Indonesia pun bukan hal yang mustahil lagi. Tentu saja, yang harus diperhatikan lebih lanjut adalah faktor kesiapan infrastruktur dari XL, ketersediaan handset dengan harga yang relatif terjangkau, dan juga tarif telekomunikasi yang juga terjangkau.

Dampak positif jika teknologi 4G ini dapat diterapkan adalah dapat tercapainya akselerasi pemerataan akses informasi antara warga perkotaan dan daerah pinggiran/pedalaman. Hal ini secara tidak langsung dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Indonesia. Lalu juga dapat mendorong semakin banyaknya aktivitas online via mobile, mendukung citizen journalism, di mana setiap orang dapat ‘memuat’ berita mereka di mana pun dan kapan pun mereka mau selama terhubungan Internet.

Dengan besarnya pangsa pasar yang dimiliki oleh XL, implementasi 4G tentu hanya tinggal menunggu waktu saja. Karena dari penjelasan di atas, paling tidak, dapat diketahui, terdapat calon pelanggan yang berprospek menggunakan layanan 4G, yaitu sekitar 50% pelanggan yang saat ini aktif menggunakan layanan data. Didukung dengan infrastruktur yang siap, serta alokasi frekuensi layanan 4G yang sudah disiapkan, tentu layak disimak langkah XL dalam mempersiapkan penetrasi dan menjadi pelopor dalam memperkenalkan teknologi 4G di Indonesia.


Post ini dibuat untuk mengikuti lomba blog XL Award 2010
Kategori Umum
Tema : Menyambut lahirnya teknologi 4G di pasar Indonesia

Sumber-sumber pendukung yang dibaca