“Ris, kamu nikah lagi saja. Pokoknya Ibu mau kamu punya anak sendiri. Tidak boleh adopsi-adopsi segala!” Kalimat itu terlontar dari mulut mertuaku, yang kelihatannya sudah tidak bisa lagi mentolerir kekuranganku sebagai wanita. Setahun lalu, aku sudah divonis dokter tidak akan pernah bisa mengandung lagi. Entah kenapa, tahun lalu, aku mengalami hari tersial di tanggal yang pula. Tanggal 13 Juli, aku tidak akan pernah bisa lupa. Ketika itu, di suatu siang, aku sedang mengobrol dengan bayiku yang masih ada di dalam rahimku. Kuelus-elus perutku, sambil mendongeng cerita pendek. Aku tidak tahu, apakah bayiku sudah bisa mendengar atau tidak. Tapi, 2 bulan lagi, dia akan segera lahir. Tidak ada salahnya mengajak ngobrol sejak saat itu, pikirku.

Tiba-tiba saja, perutku mulas bukan main. Aku pun mulai cemas, segera menelepon suamiku. Singkat kata, aku minta diantarkan oleh sopirku ke Rumah Sakit, dan suamiku akan langsung menuju ke sana. Sakit yang kurasakan benar-benar menjadi-jadi. Keringat dingin mengucur deras, campuran antara ketakutan dan rasa sakit yang tak tertahankan lagi. Sesampainya di Rumah Sakit, sopirku segera membantu memapah aku ke pintu masuk, yang selanjutnnya disambut oleh petugas. Pandanganku semakin kabur. Aku masih sempat melihat suamiku, sedang kebingungan mencariku. Setelah itu, semuanya gelap. Aku tidak tahan lagi. Kesadaranku pun hilang.

Ketika bangun, aku mengharapkan kabar gembira, bahwa paling tidak, kandunganku tidak apa-apa. Atau, separah-parahnya, bayiku lahir prematur dan berhasil diselamatkan. Namun, dari raut wajah orang-orang yang menemaniku di sana, suamiku, orang tua dan mertuaku, aku bisa tahu apa yang kira-kira sudah terjadi. Suamiku masih memegang tanganku, tertegun, seolah tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya menyodorkan handphone, menunjukkan foto seorang bayi sangat mungil. Badannya kebiru-biruan, tanpa aura kehidupan. Itulah anak kami, yang gagal menghirup udara bumi ini. Aku pun mulai berteriak, menangis. Belum cukup dengan kematian anakku, suamiku memberitahukan kenyataan yang lebih pahit, bahwa rahimku pun harus diangkat. Teriakanku mulai menjadi-jadi. Aku tidak percaya, kenapa harus terjadi begini.

Setahun berselang, aku sudah mulai bisa hidup berbahagia. Paling tidak, tidak seperti ketika aku baru keluar dari rumah sakit. Waktu itu, wajahku benar-benar buruk rupa, akibat tiap hari aku menangis. Aku tidak pernah keluar kamar, selalu mengurung diri. Baru beberapa bulan terakhir ini, aku berhasil mendapatkan kembali semangat hidupku. Belum lama berselang, cobaan datang kembali menerpaku, dengan paksaan ibu mertuaku yang memaksa suamiku mencari istri kedua, untuk memberikan keturunan. Hatiku meragu. Sebagai seorang istri, jelas aku tidak rela jika ada perempuan lain untuk suamiku. Namun, aku bisa memahami permintaan mertuaku. Suamiku adalah anak tunggal. Garis keturunan keluarganya menjadi tanggung jawabnya juga.

Setelah berpikir panjang, berdiskusi dengan orang tuaku, dan tentu saja dengan suamiku, akhirnya kami mengambil keputusan untuk menyewa rahim saja. Dengan cara ini, tidak perlu lagi ada pernikahan kedua. Toh, aku masih bisa menghasilkan sel telur, hanya tidak memiliki rahim untuk tempat bermukim anakku. Kami dikenalkan seorang kenalan kepada Anna. Dia seorang gadis yang cukup baik dan saleh, kelihatannya. Satu-satunya alasan kenapa dia mau menyewakan rahim adalah karena keterbatasan ekonomi yang melanda keluarganya. Suaminya sakit-sakitan, anaknya sudah 4, sementara ayah ibunya juga menumpang di rumahnya. Kami pun menyanggupi, dan menandatangani kontrak tertulis untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Uang muka pun kami berikan, untuk membantu perekonomian keluarga Anna. Setelah itu, serangkaian proses medis harus kami jalani, dan selang 3 bulan kemudian, anakku dan suamiku sudah ditanamkan di perut Anna.

Demi menjaga bayi kami, kami ingin agar Anna pindah ke rumah kami dan menjadi pembantu rumah tangga di sana. Anna menyanggupi saran itu. Kami pun tinggal di bawah satu atap. Seiring dengan membesarnya perut Anna, perhatian mertuaku pun lebih tertuju padanya. Tidak heran, mungkin di benak mertuaku, percuma saja memperhatikanku. Toh, tidak akan ada anak dari suamiku yang lahir dari rahimku lagi. Untungnya, suamiku tidak ikut-ikutan terlalu dekat dengan Anna. Dia memang suami yang baik, dan sejak awal menegaskan bahwa istrinya hanya satu saja, yaitu aku.

Hari-hari terus berlalu. Kini, sudah ada tangisan bayi yang mewarnai rumah kami. Anna baru saja melahirkan bayinya kemarin lusa. Segera saja, bayi itu menjadi pusat perhatian keluarga kami. Kami masih memperkerjakan Anna sebagai suster ketika dia sudah sehat kembali. Dan kami juga meminta dirinya untuk membantu menyusui Risa, nama anak kami yang cantik itu. Entahlah, dia anak kami ? ataukah anak kami dan Anna ? Kami juga tidak tahu. Yang jelas, aku merasa terbantu dengan kehadiran Anna yang jauh lebih cekatan mengurus bayi daripada aku. Tapi, perlahan-lahan, Anna mulai lebih sering memperhatikan Risa, seolah itu adalah anaknya sendiri. Jujur, terkadang aku merasa cemburu.

Ternyata, cobaan tidak berhenti ketika aku kehilangan rahim dan bayiku beberapa waktu lalu. Suatu hari, beberapa bulan setelah kelahiran Risa, aku tidak menemukan Risa dan Anna di kamar mereka, di seluruh rumahku. Ketika memasuki kamar Anna, aku hanya menemukan sepucuk surat, bertuliskan

” Maaf, Bapak, Ibu, saya tidak bisa berpisah dengan anak ini. Saya juga mencintainya sebagai anak saya sendiri. Semakin saya melihatnya, menggendongnya, semakin saya tidak bisa berpisah dengannya. Maafkan saya. Tolong jangan cari saya. Saya sudah berada di tempat yang aman, baik untuk saya dan anak ini. Sekali lagi, saya minta maaf.”

Hatiku bagai disambar guntur membaca surat itu. Aku hanya bisa tertegun, air mata kembali mengalir. Luka kehilangan bayi pertamaku belum sembuh benar. Sekarang, lubangnya semakin dalam setelah bayiku yang kedua pun dicuri orang. Orang yang dapat disebut ibu kandungnya, walaupun itu anakku dan suamiku. Itulah kali kedua bayiku dirampas.